Book Review – To Kill a Mockingbird

To kill a mocking birdDibaca pertama kali versi asli di Jogja, ditamatkan di reading room Kemang, dimantapkan dengan versi Bahasa Indonesia pinjeman dari Munir (versi terjemahannya lumayan bagus tapi untuk istilah semacam panggilan, dan slang nya kurang, lebih mantap baca yang asli)

Judge by Cover

Berukuran kecil, tebal, daaaaan pertama baca banyak gak ngertinya! Hahaha. Perdana baca versi bahasa Inggris-Amerika yang ternyata banyak penggunaan kata-kata slang pun tambahan aksen Maycomb. Nah, untuk saya yang hanya baca novel bahasa Inggris khusus novel anak semacam buku-buku Road Dahl , Neil Gaiman, atau serial british sejenis Sherlock dan Harry Potter (atau buku akademik jaman kuliah), baca buku ini cukup menantang dan lumayan tertatih-tatih. Tapi dua-tiga lembar udah bisa terbiasa kok dengan gaya tulisan Harper Lee. Jadi rekomendasinya tetap harus dibaca versi asli ya.. supaya lebih mudah ada bayangan tentang tokoh dan ceritanya, lebih ngena.

To-Kill-A-Mockingbird

Start!

Buku ini bercerita dari sudut pandang Jean (Scout), anak perempuan usia 8 tahun yang tinggal bersama ayahnya Atticus, abangnya Jeremy (Jem), dan tukang masak mereka Calpurina. Mereka hidup di pinggiran kota kecil, Maycomb, Alabama, Negara bagian di Amerika dengan latar abad ke-19. Penduduk Maycomb tidak banyak berkembang dari segi jumlah ataupun kebiasaannya, dikenal dengan Maycomb way.

menariknya?

Semua! Dari pemunculan konflik sampai penyelesaiannya!

Cerita dilihat dari sudut pandang anak 8 tahun, yang diberi kebebasan oleh ayahnya untuk tumbuh dan kebebasan untuk berpikir, berpendapat, dan bertindak (most of the time). Atticus menjadi orang kepercayaan anak-anaknya, menjadi contoh mutlak, dan kiblat perilaku dan pemikiran mereka karena menurut mereka Atticus selalu adil, dan tidak mengatur mereka, kecuali mereka mulai nakal yang keterlaluan.

Kisah Scout dimulai dengan kilas balik masa kecil Scout dan Jem. Kesehariannya bermain mereka dan teman mereka, Dill, kebiasaan mereka dirumah, tentang hari-harinya di sekolah, dan tetangga-tetangga mereka. Ada saat-saat dimana orang-orang dewasa harus banyak-banyak bersabar dan mengeluarkan usaha extra untuk memahami Scout yang bertempramen tinggi, tapi, sampai akhir cerita lebih banyak lagi pemahaman bagi orang dewasa yang didatangkan dari anak 8 tahun itu.

Dari Atticus juga, mereka belajar tentang apa itu keberanian. Atticus yang seorang pengacara ditunjuk untuk membela seorang kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan dan penganiayaan pada seorang wanita muda kulit putih. Atticus memilih untuk menerimanya meskipun Ia tahu pembelaan terhadap seorang kulit hitam tidak akan mudah. Dengan prasangka, Maycomb way, dan harga diri orang-orang yang begitu besar, kasus ini tidak hanya menjadi beban pekerjaan dan pikiran Atticus, tapi juga merembet berdampak terhadap kehidupan Jem dan Scout. Bagi Jem dan Scout, benar dan salah adalah hitam dan putih, dapat diaplikasikan di semua hal, pada semua orang tanpa melihat status dan warna kulit karena Atticus dan Calpurina mengajarkan untuk menghargai perbedaan. Tapi kehidupan di Maycomb mengajarkan warna abu-abu, dimana Scout untuk pertama kalinya mengenal toleransi, terhadap mereka yang berbeda bukan dari warna kulit, tapi dari cara berpikir. Mereka (Jem dan Scout) juga belajar bahwa orang yang berbeda dengan mereka belum tentu jahat dan orang yang sama dengan mereka tidak pasti baik.

Pada akhirnya Scout akan belajar untuk mengerti bahwa untuk mengerti seseorang, dia perlu menempatkan diri di posisi orang itu, dan masuk kedalam kulitnya.

“You never really understand a person until you consider things from his point of view […] until you climb into his skin and walk around in it.”

Subtjectively speaking

Harper lee menceritakan bukunya dengan manis sekali. Tidak buru-buru, awalnya menceritakan interaksi di dalam rumah sambil pelan-pelan memperkenalkan sifat masing-masing anggota keluarga, dan lingkungan tempat tinggal mereka. Baru setelah itu Herper lee memperkenalkan orang-orang yang berada di sekitar mereka dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Menurut saya penceritaan detail dan manis itu sangat membantu untuk ikut kedalam cerita, sengaja atau tidak jadi merasa, dan melihat sebagai Scout, sampai ke akhir cerita.

Ini dugaan sih, tapi sepertinya Harper lee banyak mengadaptasi tokoh dan latar dari pengalamannya sendiri. Selain karena Ayahnya yang juga pengacara, cara dia gambarkan tokoh dan lingkungan ada bau-bau nostalgianya, yang paling terasa dua hal, tentang hubungan Scout-Atticus, dan Scout-Maycomb. Saya hampir yakin kalo dua hal itu didaur dari masa kecilnya sendiri, kalo ternyata engga? wah.. tambah kagum lagi sama Harper lee bisa bikin latar sekuat itu murni imajinasi. Aku padamu Ma’am!

Bisa jadi karena cara penceritaan novel atau isu yang berhasil diangkat dengan jujur, buku ini banyak dijadikan bacaan yang masuk ke kurikulum sastra di Amerika dan menurut saya sangat layak untuk itu. Lanjutan dari buku ini (akhirnya) diterbitkan bertahun-tahun setelah buku pertama dengan judul Go Set a Watchmen, semoga kapan bisa tulis review lagi untuk buku itu ya..

p.s. Ohiya, saya juga baru tau buku ini pernah di film-kan (1962) dan dari foto-foto di google penggambarannya oke! Sok atuh berburu filmnya di dunia maya!

7816_to-kill-scout-640

Advertisements

Until We Meet Again

Wajah ibu sumringah, memangku beberapa dokumen di kamarnya “ De, Insya Allah Bapak sama Ibu sudah daftar naik haji , Alhamdulillah tabungannya udah cukup tinggal nunggu antrian dapetnya kapan, doain ya!”

Seperti biasa, grup whatsapp keluarga ramai sebagian besar karena chat Ibu, kadang untuk tanya ini-itu kadang sekedar share broadcast lucu atau nasihat bijak (tidak lupa emoticon berlebihan). Tapi sore itu ibu sibuk memastikan kami tidak lupa agenda buka bersama, yang sudah diributkan sejak malam sebelumnya, “Tis, De, jangan lupa nanti pulang kantor langsung ke istiqlal ya, tinggal nyebrang kan? Titis nanti naik busway aja atau gojek. Ibu Bapak langsung kesana, ketemuan disana ya kabarin kalo udah sampe.”

“Alhamdulillah puasa ini anak sekolah liburnya banyak, Ibu jadi bisa teraweh di istiqlal, bisa belajar ngaji juga akhirnya sama istrinya Pak Ustad” gumam Ibu, lirih.

“Perintilan ginian aja masih harus Ibu yang nemuin”, dumel Ibu “tapi gak apa deng, Alhamdulillah Ibunya masih dibutuhin biarpun anaknya udah gede-gede, hehe” lanjutnya sambil secara ajaib menemukan sebelah kaos kaki yang hilang, baju biru yang itu, atau sekedar kertas yang kemarin aku coret-coret yang kami lupa taruh dimana.

Wajah Ibu sedikit menahan sakit, bangun dari posisi duduk di lantai dapur sambil bertumpu pada lututnya dan bahu saya, “De, Ibu takutnya gak kuat untuk nanti pergi, tapi bisa kan ya Insya Allah?”


Sedikit dari beberapa perbincangan yang saya ingat dengan Ibu, yang membuat saya sedikit mengerti bentuk hati Ibu, dan yakin bahwa Ibu telah melakukan yang terbaik yang Ibu bisa di hidupnya, tidak ada sesal lagi.

7 hari setelah hari ulang tahun saya dua tahun lalu adalah hari kepulangan Ibu. Hari itu saya diberi kesempatan untuk memandikan, memakaikan pakaian dan mengantar untuk terakhir kalinya sosok yang melakukan itu semua untuk pertama kalinya kepada saya di dunia. Hari itu akan terus menjadi pengingat saya untuk bersyukur bahwa Ibu dibolehkan menemani sampai saya terhitung dewasa. Karena banyak yang mungkin tidak seberuntung saya dan jauh lebih kuat dari saya, harus mengikhlaskan di usia yang jauh lebih muda.

Rasa sedih dan kehilangan itu masih ada, rindu itu juga masih disana, pada waktu tertentu lebih hebat dari waktu lainnya kepada satu-satunya orang yang disanggupkan Tuhan untuk menguasai unconditional love, Ibu.

Time heals every wound, nyatanya tidak persis begitu. Tapi waktu sangat baik, memberi kami kesempatan untuk terbiasa dengan kepulangan Ibu. Dan kesempatan untuk berlatih merekatkan diri satu-sama lain, meneruskan tugas-tugas Ibu yang sudah beliau kerjakankan hampir 30 tahun terakhir.

Are you looking down upon me?

Are you proud of who I am?

Seperti Christina Aguilera di lagunya yang berjudul Hurt (lagu ini sedih, tentang dia dan ayahnya L), saya juga kadang bertanya-tanya seperti itu. “Ibu lihat saya gak ya?”  “Ibu setuju gak ya dengan yang saya pilih, bakal bikin Ibu bangga gak ya?”

Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi Ibu sudah melakukan lebih dari cukup. Urusannya di dunia telah selesai. Kami hanya perlu melakukan yang terbaik dalam hidup kami untuk membalas semua kasih sayang Ibu selama ini. Berharap pada waktunya, Tuhan bersedia menyampaikan kepada Ibu bahwa Ibu telah berhasil, kerja kerasnya memastikan keluarganya baik-baik saja telah berhasil. Didikan, dan doa yang tak henti dipanjatkan untuk keberhasilan masa depan anak-anaknya juga tidak sia-sia. Di tahun kedua dan tahun-tahun berikutnya masih akan ada hal-hal yang berjalan tidak selancar harapan kami, karena banyak yang anak-anaknya ini masih ingin capai, maka masih banyak kesalahan yang mungkin kami buat. Dan seperti di tahun-tahun sebelumnya, kami akan terus berusaha sebaik-baiknya.

Terima kasih dan rindu kami akan selalu kami sampaikan lewat doa. Selamat jalan Ibu, sejauh apapun Ibu sudah berjalan disana semoga Ibu tenang dan bahagia, semoga Ibu senantisa tersenyum bersama penghuni langit lainnya, sampai kami ikut pulang dan kita bertemu lagi, nanti.

 

Selamat malam, Bu..

BADUY

DSC_00329

Urang Kanekes, Orang Kanekes atau Orang Baduy/Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat sub-etnis Sunda di wilayah Kabupaten LebakBanten

Siapa sih Suku Baduy itu? masih segitu suku nya kah? Se-berbeda apa dari penduduk kota? Saya berniat, well, berusaha menjalankan niat lebih tepatnya untuk berkunjung ke Baduy, dan kebetulan teman saya mengadakan trip terbuka untuk ke Baduy dalam tanggal 7-8 Oktober 2017, tidak hanya suku Baduy tapi ke Baduy dalam! Horray!!

Mengingat saya memiliki beberapa teman yang kurang main, saya ajak mereka untuk ikut karena tripnya pun saat weekend jadi tidak terlalu sulit mengatur waktu. Untungnya, teman-teman saya juga tidak terlalu banyak pertimbangan (gampangan), karena sudah ada yang atur tripnya jadi hanya perlu bayar ya! ehehehehe.

DSC_1013

Trip dimulai dari stasiun tanah abang untuk menggunakan KRL ke Rangkas Bitung. Kami berkumpul di pagi hari dengan total peserta 10 orang, 7 perempuan dan 3 laki-laki. Kami berangkat dengan kereta rangkas yang kedua di hari itu, pukul 06.35. Perjalanan ke Rangkas melewati 17 stasiun, dan bukan 17 stasiun dengan jarak pendek-pendek seperti KRL ke arah Jakarta Kota tapi dari satu stasiun ke stasiun lain bisa memakan waktu 10-15 menit. Dari terkantuk-kantuk, tidur pules, bangun, ngantuk lagi sampai mulai lapar, baru kami tiba di stasiun rangkas jam 9.30.

Dari stasiun rangkas kami menyewa kendaraan elf yang akan mengangkut kami langsung ke desa Cijahe selama 2,5 jam, setelah transit dipasar sejenak untuk mebeli beras dan bahan makanan. Pemandangan pertama adalah lapangan luas, dan beberapa tikar gelaran ikan asin yang dijemur sambil sesekali dipatok ayam, serta rumah dengan teras-teras bambu dengan beberapa Lelaki Baduy berpakaian hitam dengan ikat kepala putih menunggu disana untuk mengantarkan tamu mereka ke Baduy dalam.

DSC_1036

Desa Cijahe tidak termasuk Baduy luar, hanya salah satu desa terdekat untuk perjalanan masuk ke Suku Baduy sehingga meskipun masih terlihat sederhana namun sudah terdapat listrik, masjid, dan kehidupan modern lainnya. Setibanya di Cijahe kami istirahat sejenak, makan siang dan sholat sebelum memulai perjalanan. Makan siangnya apa? Bakso! Iya sudah ada jajanan dan tukang bakso disana.

“Enak enggak?”

“ Lapar.”

Kami berangkat selepas zuhur diarahkan oleh Kang Asmin, yang akan kami singgahi rumahnya untuk bermalam di Baduy Dalam nanti, ditemani adik ipar dari kang Asmin, Pulung si bolang dan Darwan yang masih kecil. Dalam perjalanan tersebut kami melewati beberapa desa Baduy luar. Rumah mereka belum berlistrik namun kelengkapan hidup sehari-hari mereka sudah lebih kekinian. Mereka boleh mengenakan pakaian bebas warna-warni, menggunakan alas kaki dan mengendarai kendaraan. Jalan menuju Baduy dalam berupa ladang, bukit, dan hutan yang terdiri dari turunan dan tanjakan.

Baduy luar sendiri terdiri dari 60an desa dan Baduy dalam hanya terdiri dari 3 desa yaitu Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Tiap desa Baduy dalam dipimpin oleh seorang Puun yang juga dipercaya sebagai pemimpin dari 60an desa Baduy luar. Jadi peraturan adat sebenarnya masih dijalankan di Baduy dalam maupun luar, hanya saja Baduy dalam lebih ketat dalam menjalankan ajaran asli suku Baduy. Jika mereka melakukan pelanggaran akan hukum adat, maka akan diberi teguran oleh Puun dan diusir ke Baduy  luar. Tapi jangan salah, diusir bukan berarti hubungan mereka jadi tidak baik, mereka tetap dapat berkunjung ke Baduy dalam, tetap bisa menginap di tempat keluarga mereka, hanya saja dianggap sebagai tamu karena dinilai tidak mampu menjalankan hukum adat Baduy secara menyeluruh.

Dari desa Cijahe, kami melewati beberapa jembatan bambu. Jembatan ketiga, yang melintang sungai yang cukup besar merupakan pembatas antara desa Baduy luar dan Baduy dalam. Mulai dari sini peraturan Baduy dalam pun berlaku untuk kami, para pendatang. No gadget, No electronic device, No chemical for sanitary. Di jembatan itulah kesempatan foto dan ber-gadget terakhir kali sebelum puasa gadget sampai besok pulang. Perjalanan kami sempat diwarnai sedikit hujan yang cukup deras namun Alhamdulillah tidak sampai mengganggu perjalanan. Licin, tapi masih bisa diakali dengan hati-hati (padahal saya juga sempet kepeleset lumut pas turunan, yeu).

Dan setelah 1,5-2 jam perjalanan sampailah kami di Desa Cibeo, Baduy dalam. Kesan pertama yg saya rasakan adalah tenang. Mulai dari orang dewasa, anak kecil, sampai ayam yang berkeliaran pun tidak banyak membuat suara, bisik-bisik aja, hebat kan? Kami secara otomatis mulai memalankan suara ketika masuk rumah Kang Asmin, meskipun akhirnya kesunyian kami tidak bertahan lama, sebagian besar karena Ayu, seorang ahli farmasi anggota perjalanan kami yang secara sengaja ataupun tidak, segala gerak-geriknya memancing kericuhan. Tapi karena ayu juga kami tidak mati gaya ditengah kesunyian Baduy. Sebagian besar waktu senggang kami isi dengan menegur atau menertawakan Ayu. Terima kasih Ayu! 😀

Untuk menggambarkan kehidupan Suku Baduy dalam, saya bagi menurut kebutuhan pokok hidup manusia dari sandang, pangan, papan.

SANDANG

Suku Baduy dalam mengenakan pakaian yang berwarna hitam, putih, atau biru tua. Hanya boleh warna itu. Laki-laki biasanya mengenakan pakaian dan celana se-betis berbahan katun kasar dan ikat kepala putih, dan perempuan mengenakan kain kemben hitam ditumpuk dengan kemeja putih dari bahan yang sama. Kain kemben mereka rajut sendiri dan baju mereka jahit sendiri, namun untuk bahan seperti benang, kain, pewarna pakaian, mereka membeli dari Baduy luar ataupun desa di sekitarnya. Mereka juga menjual baju khas seperti yang mereka pakai sebagai souvenir bagi para pendatang. Suku Baduy dalam juga pantang menggunakan alas kaki baik ketika mereka sedang berada di Baduy dalam, Baduy luar, ataupun sedang plesir ke kota.

PANGAN

Suku Baduy lebih banyak mengkonsumsi hasil lahan dan tangkapan mereka sendiri. Meskipun kini untuk beberapa kebutuhan mereka juga melengkapi dari Baduy luar. Makanan pokok berupa beras dan kadang diseling dengan jagung, disimpan di lumbung yang tak jauh dari desa mereka. Makanan yang biasa mereka konsumsi adalah sayuran dan ikan asin. Beberapa dari penduduk memelihara ayam, namun ayam hanya disantap saat ada acara khusus seperti pernikahan dan hajatan lain. Suku Baduy dalam menggunakan perangkap ikan tradisional yg terbuat dari bambu untuk dipasang di sungai ketika sungai sedang deras.

Kami disuguhi air putih yang ditampung ke dalam botol kaca besar berwarna coklat, dengan gelas bambu untuk minum. Air minum mereka ambil dari hulu sungai dan dimasak dengan tambahan dedauan dengan aroma khas.

PAPAN

Ada beberapa aturan rumah di Baduy dalam, antara lain hanya boleh memiliki satu pintu masuk, menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Puun, punya privilege khusus), tidak boleh memiliki bale-bale/teras, dan tidak boleh menggunakan besi bahkan paku satupun. Rumah dari bahan bambu diikat dan direkatkan dengan serat-bambu dan sabut kelapa. Atapnya berupa ilalang kering yang diikat, dindingnya berupa anyaman bambu. Sisanya menggunakan kayu untuk rangka, pintu, dll.

Keseragaman itu membuat desa Cibeo terlihat rapi, dengan sedikit tanah lapang di depan rumah Puun yang terletak di tengah desa, dan satu gubuk yang dipakai untuk pertemuan, Desa Cibeo sudah memiliki segala yang mereka butuhkan.

Setelah sebentar melepas lelah, sore itu kami mengelilingi desa Cibeo dan bermain di sungai (Saya bertemu lagi dengan beberapa tim Rinjani! Yeay! Ketemuan yang romantis, di sungai menjelang mandi! haha). Sungai bagi suku Baduy memegang peranan yang penting. Selain sebagai sumber air untuk sehari-hari juga menjadi tempat mereka membersihkan diri. Mungkin ini alasannya di suku Baduy tidak diperbolehkan membersihkan diri menggunakan sabun, untuk menjaga kualitas air mereka. Hasilnya tentu saja, sungai yang bening dengan batu-batuan yang menyaring dedaunan dan tanah yang hanyut di sungai (dan kulit teteh-teteh Baduy yang bersih sekali). Tempat mandi untuk perempuan dan laki-laki berbeda. Perempuan di ujung kiri jembatan dan laki-laki di seberang kanan jembatan. Karena banyaknya pengunjung, di desa Cibeo terdapat dua pancuran untuk pendatang yag ingin membersihkan diri secara lebih tertutup. Pancuran disini adalah bilik bambu dengan sungai kecil yang mengalir di bawahnya dan aliran air yang ditampung di bilah batang pohon yang dikeruk tengahnya sehingga berupa bak tampungan.

Bahasa asli masyarakat Baduy adalah bahasa sunda, mayoritas penduduk yang masih terhitung muda dapat menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga mulai mengenal baca dan tulis meskipun sekolah merupakan hal tabu di desa Baduy dalam.

Selama berkeliling kami berpapasan dengan banyak penduduk desa dari anak-anak hingga aki-aki dan nini-nini. Sebagian dari mereka khususnya anak kecil sering memperhatikan tamu yang datang, beberapa memperhatikan jika diajak berbicang, tapi tidak sedikit yang hanya melengos lewat entah malu atau memang cuek. Perempuan-perempuan Baduy cenderung mengacuhkan pendatang, hampir tidak pernah kami mendengar suara para perempuan Baduy kecuali istri Kang Asmin, tuan rumah kami. Itupun hanya beberapa kata. Tetua yang kami sapa biasanya justru menyapa balik meskipun, yah, seadanya. Seperti ke sungai, perbincangan yang sering terjadi hanya:

“punten aki”, ketika melewti kakek yang sedang nyirih di depan rumahnya.

“cai cai?” sambil menunjuk kearah sungai, maksudnya menunjukkan arah sumber air, yaitu sungai. Tempat yang biasanya dituju para pendatang di sore hari.

“Iyah” dengan nada yang disunda-sundakeun.

Sudah, itu saja.

Saat matahari terbenam, semua penduduk masuk ke rumah masing-masing. Setelah makan malam ditemani dengan cahaya lilin kami berbincang-bincang dengan Kang Asmin dan sepupunya yang merupakan suku Baduy luar. Banyak hal yang kami tanyakan mulai dari peraturan adat, sekolah, kesehatan, hingga pernikahan di Baduy. Selepas berbincang, kami mulai bersiap tidur dengan obrolan-obrolan kecil pengganti gadget yang pantang diaktifkan, sampai tertidur.

Esok paginya, setelah bebersih di pancuran dan sarapan pagi, kami pamit dan pulang melalui jalur Ciboleger yang lebih menantang dari jalur Cijahe. Turunan dan tanjakan lebih curam, lebih licin, dan waktu tempuh lebih jauh. Untungnya Radian dan Yovie selaku trip provider sudah memesan kelapa muda untuk kami santap di desa Balimbing, salah satu dari 7 desa yang kami lewati dalam perjalanan ke Ciboleger, kalian memang terbaik!

DSC_0117Perjalanan dari Desa Cibeo ke Ciboleger memakan waktu sekitar 5-6 jam termasuk waktu istirahat kami di desa Balimbing untuk makan siang, beli madu, dan minum (gak pake es) kelapa muda tadi. Alhamdulillah semua sehat dan (kelihatannya) bahagia meskipun beberapa kurang fit keadaannya saat berangkat.

Satu hal yang saya pelajari selama dua hari di Baduy adalah, masyarakat adat memegang peran yang sangat penting bagi keseimbangan alam.

Segala peraturan, larangan, kepercayaan yang mereka jalani mungkin terlihat aneh dan beberapa menyusahkan, tapi sebenarnya mungkin malah kita yang terlalu menggampangkan hidup. Saya percaya mereka berhak untuk dapat hak hidup terbaik sebagai bagian dari warga Indonesia, hal itu tidak perlu diragukan. Tapi modernisasi tidak selalu menjadi jalan keluar. Seperti artikel Butet mengenai sabunisasi di Papua dan polemiknya.

Jelas mereka tidak boleh terabaikan, khususnya dalam hal pendidikan dan kesehatan. Namun yang lebih penting kearifan lokal merekalah yang harus turut kita jaga dan hormati. Mungkin, karena merekalah air di sekitar gunung Baduy sebagian besar masih jernih. Mungkin karena mereka jugalah Gunung Baduy masih selamat dari longsor karena dengan ketatnya peraturan mereka, tak banyak orang yang berani sembarang membabat pohon untuk kepentingan kapitalis.

Karena pada akhirnya, mungkin, merekalah yang punya peranan lebih besar, untuk lebih banyak kehidupan 🙂

 

Untranslatable Words

Some of my all time favorite beautiful words which have no equivalent in other languages.

Petichor

English

(n.) The pleasant earthy smell after rain

serein

Serein

French

(n.) A fine light rain which falls from a cloudless sky at sunset or in the early hours of night ; evening serenity

Komorebi

Japanese

(n.) Sunlight filtering through trees

Fernweh

German

(n.) A longing to travel, missing a place you’ve never been

Mangata

Swedish

(n.) The glimmering roadlike reflection of the moon underwater

PATRAPALA RINJANI 2017

Setelah pendakian ke Gunung Latimojong Sulawesi Selatan bersama Patrapala dalam rangka Pendakian 7-Summit Kartini Pertamina di tahun 2016, saya mendapat kesempatan untuk kembali menjadi bagian dari Pendakian 7-Summit Kemerdekaan RI ke-72 bersama Patrapala.

Berawal dari ajakan salah satu anggota Patrapala yang saya sambut cepat tanpa pikir panjang dengan satu kata “yuk!” sebelum saya sempat menimbang masalah cuti, biaya atupun siapa saja yang ikut. Karena seperti trip sebelumnya yang terlintas hanya : kapan lagi ada yang ajak ke Rinjani! Berangkaatt!

Perjalanan dimulai dari meeting point di Bandara Soekarno-Hatta. Disana untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan seluruh tim yang ternyata jumlahnya 19 orang (tambah 3 orang eksternal yang ikut dari open trip) dengan total 6 peserta perempuan dan lainnya laki-laki. Ini trip pertama saya dengan grup besar, biasanya pendakian dan trip yang pernah saya jalani hanya kisaran 5-10 orang karena menurut saya peserta trip apalagi yang bentuknya pendakian itu adalah amunisi pertama dan utama, syukur-syukur bisa jadi sebuah team. Agak deg-degan juga gabung di grup besar macam ini. Tapi deg-degan untuk naik Rinjani sendiri ternyata lebih besar terasanya, jadi sehabis kenalan ya udah lupa untuk takut, awkward, segala macem, hehehe.

WhatsApp Image 2017-08-26 at 8.03.51 AM

Hari Pertama-Menuju Lombok

Kami berangkat jam 17.00 WIB  dan tiba di Bandara Lombok sekitar jam 21.00 WITA, dari sana kami melakukan perjalanan darat dengan mobil sewaan menuju Desa Sembalun, Lombok timur mengingat kami akan mulai pendakian dari gerbang Sembalun. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3 jam ditambah transit sebentar untuk makan malam, kami pun tiba di desa sembalun sekitar pukul 00.00 WITA dan menginap untuk persiapan keberangkatan di salah satu rumah warga. Karena desa sembalun berada di dataran tinggi, suhunya lumayan dingin, apalagi sekitar pukul 02.00/3.00 kami berlima yang eksklusif ditumpuk di satu kamar pun makin merungkel tidurnya karena gak nyangka akan sedingin itu, entah kabarnya Bapak dan Mas yang kebagian di ruang tengah. Saya tidak tau pasti berapa suhunya tapi kurang lebih sedingin Desa Dieng, Kebayang toh?

Hari Kedua-Langkah awal Pendakian

IMG_2036

Hari kedua dimulai dengan sarapan, persiapan, packing barang porter, dan asupan suplemen dari Mas Rama, kami melakukan persiapan akhir untuk memulai perjalanan, yaitu doa. Jam 8 tepat kami diangkut dengan kendaraan pick-up untuk sampai ke titik awal pendakian, memakan waktu tidak lebih dari 30 menit. Titik awal pendakian melalui jalur sembalun berupa padang dengan banyak sapi dan ampasnya di sana sini. Setelah satu jam perjalanan, kami melewati hutan yang tidak terlalu padat vegetasinya dan disambut oleh monyet-onyet gunung Rinjani yang terkenal itu. Tenang, mereka gak ganggu kok, teriak aja semacam say hi. Setelah hutan pendek, jalur kembali ke padang rumput yang sepertinya tidak ada habisnya. Jalur sampai ke pos 1 dan 2 tidak terlalu signifikan perbedaan treknya semua masih berupa padang rumput, undak-undakan bukit, jembatan, tanjakan, dan turunan yang tidak banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Disinilah mulai ada penyesalan bagi mereka-mereka yang lupa untuk menggunakan tabir surya, karena panasnya menggigit sampai ke kulit tanpa malu-malu.

Jalan sedikit dari pos 2 kami tiba di Padang sembalun yang luas sekali, berbukit, dan cukup banyak tenda disana karena sebagian besar pendaki yang baru mulai pendakian istirahat untuk makan siang di padang ini, dan sebagian pendaki lain buka tenda untuk menginap dalam perjalanan turun. Hal yang menarik dari spot makan siang ini adalah, terasa betul kastanya! Haha. Ternyata porter dan guide di Rinjani ini luar biasa, khususnya untuk porter bagi pendaki asing. Mereka dengan sigap membangun tenda terbuka, kursi serta meja lipat untuk tempat istirahat para pendaki yang mereka bawa. Makanan pun disajikan ala restoran dengan nasi yg dibentuk dengan mangkuk dan lauk-lauk dipinggirnya serta buah-buahan yang disusun dengan ciamik. Kami yang baru datang dengan perut keroncongan pun hanya bisa lewat dengan mata penuh harapan. Tidak menghancurkan harapan, sampai disana kami sudah ditunggu oleh beberapa anggota tim yang tiba duluan yang sudah duduk cantik di terpal yang digelar diatas semak-semak ilalang rimbun. Beratapkan langit pulau Lombok dan senyum sumringah mereka karena sudah bisa selonjoran ditempat empuk, ditemani irisan tipis nanas segar yang sepertinya dari satu buah nanas madu (jenis nanas yang ukuran mungil) berusaha dibagi rata untuk 20an orang. Kami pun hanya bisa tertawa melihat perbedaan kasta ini tapi tidak lagi membandingkan karena toh nikmat dan bahagianya tidak kalah 🙂

Setelah seluruh tim tiba dan ishoma sudah beres dijalankan, kami lanjutkan perjalanan dengan target tiba di pelawangan sembalun sebelum gelap, yaitu titik camp terakhir sebelum summit attack.

Trek berbeda mulai kami jalani setelah melewati pos 3, dengan ciri khas goa besar tempat banyak monyet Gunung Rinjani membangun habitat. Trek dimulai dengan tanjakan berbatu, dilanjutkan dengan tanjakan berbatu dan berakar, dan disempurnakan dengan tanjakan berbatu, berakar, dan berpasir yang tidak terputus dan berulang hingga konon mencapai 9 bukit yang seringkali disebut bukit penyesalan. Sampai akhirnya mencapai bidang datar menghadap kearah danau Sagara anak yang menyapa para pendaki yang kelelahan dari bawah sana. Secara ajaib mengubah semua penat jadi rasa syukur dan kagum, “baru sampai sini aja udah keren banget ya”

IMG_2544

Hari Ketiga-Summit Attack

Pukul 3.00 WITA kami bersiap melakukan summit attack, dari tempat camp sudah terlihat ular-ularan headlamp yg memanjang hingga puncak Rinjani. Hari ini adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan info dari Mas Gondrong, sejak jam 1 sudah banyak yang mulai summit attack untuk pengibaran Bendera Merah Putih di atas sana. Kami yang tadinya masih mengantuk dan malas-malasaan sarapan langsung semangat. Bersenjatakan jaket, masker, kacamata, headlamp, minum dan sedikit ransum, kami pun berangkat.

Langkah kami dimulai dengan berbaris rapat-rapat dan mengikuti langkah kaki tim yang ada di depan kami, karena biarpun menggunakan headlamp tapi jangkauan penglihatan sangat terbatas, sehingga trek sekitar seperti apa kurang bisa dilihat secara detil. Selepas melewati camp pelawangan sembalun jalan mulai berkelok, menanjak, dan berpasir halus. Jalanan tidak terlalu sempit, masih cukup untuk bergeser saat ada pendaki lain yang ingin berjalan lebih cepat. Kami sempat beristirahat sejenak untuk kembali merapatkan barisan yang sempat terpisah-pisah, solat subuh, dan tidur-tidur ayam. Hari mulai terang, trek mulai berubah menjadi pasir yang lebih kasar dan batu-batu kecil. Satu tipikal yang saya temukan di trek rinjani adalah banyak harapan palsu. Saat kami kira puncak tinggal satu belokan ke kanan, jalur yang ada justru ke kiri dahulu baru kearah kanan lagi. Setelah ke kenanan dan melewati batu yang menutupi puncak, ternyata masih ada tanjakan lagi. Begitu seterusnya.

Di jalur ini tim kami mulai terpisah-pisah lagi, beberapa berhenti untuk mengatur napas, ada pula yang tidur di pinggir trek karena tidak bisa menahan kantuk, yang lain berhenti untuk mengambil gambar, dan sisanya lanjut terus pantang berhenti. Salah satu yang paling saya kagumi adalah Pak Anis, ketua Patrapala. Di usianya yang bukan remaja lagi (hehe) Pak Anis adalah yang paling bersemangat untuk sampai ke Puncak, untuk memberi semangat dan contoh kepada kami yang masih muda. Dan yang kedua adalah Mba Amika, yang dalam separuh perjalanan mengalami kram perut akut dan keringat dingin tapi menolak untuk berhenti ataupun turun. Tidak ada mengeluh, tidak ada marah, tidak ada kesal. Saya sempat khawatir karena tidak membawa P3K sama sekali saat itu, hanya air minum. Tapi melihat semangat beliau, saya percaya beliau bisa, dan saya beruntung untuk dapat menyaksikan bahwa usaha tidak menghianati hasil. Bersama Pak Anis, Mba Amika, dan 11 orang lainnya, kami berhasil sampai dan selamat di puncak rinjani pada tanggal 17 Agustus. MERDEKAA!

IMG_2459

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada (karena mulai terserang lapar) kami turun lewat tengah hari menyusuri jalan yang sama saat kami berangkat dini hari tadi. Saat itu yang banyak terucap adalah “Ya ampun kayak gini ya jalurnya, untuk pas naik gak keliatan!” karena jalur kebanyakan berpasir, curam, dan mepet dengan tebing jurang. Strategi selain jalan miring dan rem tumit adalah: serosot bebas, duduk aja kalau gak bisa ngerem. Perjalanan turun memang tidak mudah tapi pemandangan dari puncak tadi masih terbayang dan membawa kesenangan sendiri yang membuat semuanya terasa lebih ringan untuk diserosoti dijalani.

Hari Keempat-Selamat tinggal Pelawangan Sembalun!

Idealnya, pendaki mulai pendakian dari jalur sembalun, lalu ke danau segara anak, dan turun melalui jalur senaru.

WhatsApp Image 2017-08-26 at 11.56.31 AM.jpegMengingat kondisi tim, kami memutuskan untuk turun kembali lewat jalur sembalun dan camp untuk satu malam di pos 2. Perjalanan turun menjadi perjalanan yang lebih santai, beban carrier sudah tidak berarti banyak. Sampai di pos 2 kami buka tenda, istirahat, dan menghabiskan malam dengan MAIN UNO! Anehnya, masih banyak yg belum tau uno, jadi satu jam pertama dihabiskan untuk mengajarkan angkatan yang lebih tua (sungkem) untuk bermain uno

Hari Kelima-Sampai jumpa lagi, Rinjani

Saat fajar mulai merekah, kami semua sudah siap keluar dari tenda untuk menikmati hari terakhir kami diselimuti udara segar Rinjani dan pemandangan yang syahdu. Ya, Sembalun di fajar hari sangat tenang dengan pemandangan Puncak rinjani yang menampakkan diri dengan cantiknya, syahdu. Perlahan lahan sinar fajar mulai berpijar dari ufuk timur, mewarnai seluruh bukit-bukit sembalun dengan warna kuning keemasan.

Perjalanan dari pos 2 kembali ke desa sembalun hanya memakan waktu 2-3 jam, dengan trek yang bersahabat dan pertemuan kami dengan beberapa kawanan sapi tanpa penggembala, tanpa terasa kami sudah mencapai titik awal pendakian.

IMG_2064

Tuhan mengikuti prasangka hamba-Nya

Kawan perjalanan, kekuatan, kegigihan, kelancaran perjalanan, cuaca, pemandangan indah. Semua dijalani berdasar prasangka baik kepada Tuhan bahwa semua akan baik-baik saja, terwujud berlipat kali lebih baik. Tidak mudah, tapi bukankah kesulitan itu yang menjadikan semua lebih layak dikenang?

Terima kasih untuk Rekan-rekan Patrapala;

Pak Anis, Mba Amika, Mas Ben, Mba Hani, Mba Mia, Mas Wawan, Mas Ruly, Mas Ario, Mas Taufik, Mas Ridho, Mas Jingga, Mas Yusuf, Mas Royyan, Mas Thoge, Mba Tjatur, Mas Fuad

Juga untuk teman-teman Trip Addict, EO dan pesertanya;

Mas Rama, Mas Gondrong, Om John, Om Bernard, Sukma, Mas Doko

Terima kasih Dewi Anjani, atas kecantikanmu untuk kami kagumi dan kesediaanmu untuk kami kunjungi.

PATRAPALA NEVER GIVE UP!

“A journey is best measured in friends, rather than miles.” – Tim Cahill